SELAMAT DATANG

Kamis, 28 Oktober 2010

KONFLIK DALAM ORGANISASI

Konflik dalam kehidupan sehari hari merupakan  sesuatu hal yang mendasar dan esensial. Dalam organisasi, mempunyai kekuatan yang dapat membangun kinerja staff, karena adanya variable yang bergerak bersamaan secara dinamis.
Dalam hal ini,konflik merupakan suatu proses yang wajar terjadi dalam suatu organisasi atau masyarakat.
Pengertian konflik
Dipandang sebagai perilaku,konflik merupakan bentukminteraktif, yg terjadi pada tingkatan individual, interpersonal, kelompok atau pada tingkatan organisasi (Muchlas, 1999). Terutama konflik pada tingkatan individual, sangat dekat hUbungannya dengan stres.
konflik dalam , menurut Minnery (1985) merupakan interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung, namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan. dalam , sering terjadi tidak simetris, terjadi hanya satu pihak yang sadar dan memberikan respon terhadap tersebut. Atau, satu pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang telah atau akan menyerang secara negatif (Robbins, 1993)
Sumber utama dalam
Dalam sebuah khususnya besar, dalam hal pembagian kerja, sering menimbulkan , antara unit kerja yang ada atau antar . Timbulnya ini dikarenakan adanya perbedaan tujuan antara satu pihak dengan pihak lain yang terlibat dalam tersebut.
Oleh karena itu diperlukan kerjasama dan koordinasi antar struktur dalam atau antar sehingga dapat meminimalkan terjadinya perbedaan.
Ross (1993) mengemukakan ada dua sumber yang terjadi dalam sebuah atau kelompok, adalah adanya unsur persaingan dan unsur kekuatan. Menurut teori struktur, dipicu oleh sosial adanya persaingan antara pihak-pihak yang berkepentingan.Tindakan terhadap pihak lain dalam pemikiran teori struktur social akan menciptakan tantangan nyata untuk meningkatkan solidaritas dan respon kolektif dalam menghadapi lawan. Selanjutnya pihak-pihak tersebut melakukan konsolodasi secara sadar sehingga membentuk suatu kekuatan dalam menghadapi tersebut.
Disisi lain, Teori Psychoculttural melihat sebagai kekuatan psikologi dan cultural.
Teori ini menunjukan bahwa suatu pihak perlu memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal dan tingkah laku pihak lain. Oleh karena itu kondisi social dan hubungan dengan pihak lain menjadi suatu hal penting untuk diperhatikan dalam menghadapi , karena kondisi psikologis dan culutaral ini merupakan sebuah kekuatan nyata. .
Menangani
Berdasarkan kedua sumber di atas, memerlukan penanganan yang berbeda. Teori structural menerangkan bahwa strategi manajemen memerlukan perubahan kondisi pihak tersebut secara mendasar. Kepentingan yang divergen sangat sulit untuk dijembatani.
Sementara itu, Teori psychocultural, menekankan dalam manajemen memfokuskan pada proses yang dapat mengubah persepsi atau mempengaruhi hubungan antara pihak-pihak kunci. Dalam pandangan teori ini kepentingan lebih bersifat subjektif dan dapat berubah disbanding dalam pandangan teori struktural
Penutup
harus dilihat dari dua aspek yaitu aspek struktural dan aspek psikokultural. Dari aspek struktural, dipandang sebagai kepentingan. Dari aspek psikokultural, dipandang ndang sebagai proses psikologi dan budaya dari pihak yang terlibat.
Stretegi mengatisi dalam ,
menurut Ross (1993) melalui Self-help strategy.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar